Selasa, 20 November 2012

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU


Berfilsafat itu menyangkut banyak hal, pendapat para filsuf pasti kita perhatian, sejarah juga kita perhatikan, pikiran, logika, dan pengalaman kita. Pengalaman sangat penting termasuk pengalaman berfikir dan membaca. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mendeskripsikan secara profesional ide tentang apa yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian mendeskripsikan tentang sifat berfikir termasuk intuisi.
            Jangankan kita yang belajar filsafat, sedangkan orang awam yang tidak belajar filsafat. Jangankan orang awam yang tidak belajar filsafat, sedangkan orang yang tidak sekolah. Jangankan orang yang tidak sekolah, sedangkan anak-anak. Jangankan anak-anak, sedangkan binatang. Jangankan binatang, sedangkan tumbuh-tumbuhan. Jangankan tumbuh-tumbuhan, sedangkan batu pun sebenar-benarnya sedang menembus ruang dan waktu. Sebuah batu yang menembus ruang dan waktu, karena mengalamai masa lampau, sekarang, dan yang akan datang, mengalami kehujanan, kepanasan, ruag yang mengalami banyak hujan dan banyak panas.
Menembus ruang dan waktu bisa sangat sulit dan sangat mudah. Tidur saja menembus ruang dan waktu karena tiba-tiba saat bangun sudah pagi. Ternyata menembus ruang dan waktu berdimensi meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Bahkan yang mungkin ada pun menembus ruang dan waktu, contohnya aku dulu hampir berteman dengan dia, hampir itu mungkin, tetapi belum, ternyata menembus ruang dan waktu, yang tidak kita ketahui juga menembus ruang dan waktu. Contohnya soal kesempatan bekerja. Kita lulus tahun ini dan tahun berikutnya itu berbeda soal ruang.
            Bekal yang dipertimbangkan untuk menembus ruang dan waktu yaitu paham tentang ruang dan waktu, memahami tentang adanya filsafat phenomenology, dan memahami tentang filsafat fondasionalism dan anti tesisnya yaitu anti fondasionalism. Sebagai seseorang yang belajar filsafat itu profesional yaitu lebih detail dan lebih rinci.
            Memahami ruang dan waktu. Ruang berdimensi secara umum, yaitu berdimensi 0, 1, 2, 3, 4, dst. Kita punya ruang-ruang yang lain baik horisontal maupun vertikal. Contoh fisik ruang adalah ruang kelas. Ruang yang ada dalam hidup kita adalah ruang berfilsafatnya menurut versi orang spriritualis. Mulai dari materialism, formalism, normatif, dan spiritual. Maka setiap hari dan tiap saat tiadalah orang menembus ruang. Sekaligus kita adalah materialism, formalism, normatif, dan spiritual. Kita adalah ruang berdimensi tak berhingga. Karena spiritual dimulai dari tingkat 0 sampai spiritual tingkat tertinggi. Setinggi-tingginnya manusia spiritualnya tidak akan melebihi nabi dan Tuhan. Seredah-rendahnya manusia jika dia tidak percaya, belum percaya, atau bahkan memusuhi. Apalagi normatif, normatif itu ilmu. Orang yang tidak berilmu, misalnya orang gila itu sebenarnya masih punya pengetahuan karena bisa berjalan dan lain-lain, walaupun tidak berkategori karena kehilangan orientasi kategori. Contoh menembus ruang dan waktu adalah orang sholat. Saat sujud itu termasuk normatif sekaligus spiritual. Waktu ada 3 macam, yaitu: waktu berurutan, waktu berkelanjutan, dan waktu berkesatuan.
            Fenomenologi tokonya dalah Husserr. Isi pokok fenomenologi adalah abstraksi dan idealitas. Sebenar-benarnya manusia adalah abtraksi, karena hanya bisa melihat satu titik, tidak bisa melihat banyak titik sekaligus. Berfikir juga tidak bisa sekaligus memikirkan semuanya pada waktu yang sama, misalnya sedang memikirkan Jakarta maka lupa Surabaya lupa London, dan sebagainya. Apalagi berbicara, maka tidak bisa mengatakan semuanya yag dipikirkan secara serempak bersama-sama. Maka harus memilih kata-kata yang aku katakan. Kata itu ada yang terucap dan tidak terucap. Kata-kata sangat tidak mencukupi untuk mengatakan semua pikiran. Itulah hakikat dari abstraksi atau reduksi.  Filsafatnya adalah abstraksionism dan reduksionism. Dan hakikat manusia adalah abstraksi, itu adalah kodrat.
            Keterbatasan adalah karunia dari Tuhan. Fenomenologi adalah abstraksi, maka Husserr membangun rumah besar yang dipakai untuk menampung/menyimpan semua yang tidak dipikirkan, yaitu rumah ephoce. Visualisasinya berbagai macam, bisa dengan melakukan kegiatan2 atau menutup diri. Belajar matematika misalnya, maka warna, bahan, aromanya semuanya dimasukan ke dalam ephoce, yang dipikirkan hanya ukuran dan bentuknya. Padahal segitiga mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dimensi 1 atau dimensi 2, misalnya materialnya ilmu, maka formalnya ilmu pengetahuan, normatifnya logos atau filsafat, dan spiritualnya ciptaan.
Yang ketiga yaitu the foundasionalism and anti foundasionalism. Sebenar-benarnya foundasionalsm adalah intuisi. Semua umat beragama pasti kaum fondasionalism, karena menetapkan Tuhan sebagai kausa prima, karena sebab dan dari segala sebab dan tidak ada yang mendahuluinya. Semua orang yang menikah adalah kaum fondasionalism. Fondamenya adalah ijab kobul. Maka semua pure mathematics adalah fondasionalism, karena menempatkan definisi sebagai pondasi. Jika engkau tahu kapan engkau mulai itulah kaum fondasionalisme, tetapi lebih banyak lagi dunia ini tidak diketahui kapan mulainya itulah yang disebut intuisionism. Manusia sekaligus fondasionalism dan intuisionism, itulah yang disebut hidup ini kontradiksi. Misalnya mengerti besar dan kecil tidak perlu definisi, itulah yang namanya intuisi. Maka pendidikan di sekolah gagal, siswa benci pada matematika karena mereka telah terampas intuisinya. Contoh: Bagaimana memahami bilangan 2? 2 adalah 1 + 1. 2 adalah 2 x 1. 2 adalah bilangan prima terkecil. 2 adalah 6 : 3. Itu terjadi karena definisi. Padahal 2 tidak perlu definisi, karena mereka sudah tahu sebelum sekolah bahwa tangan mereka ada 2, kakinya ada 2, telinga ada 2, dan seterusnya. Maka 2 tidak perlu definisi.
Brower itu anti fondasionalism. Brower ingin mendidik matematika dengan intuisi. Rasa sayang pada orang tua, agama, berdoa memerlukan intuisi. Mengerti besar kecil, jauh dekat, panjang pendek adalah intuisi ruang. Lama sebentar adalah intuisi waktu. Matematika formal, aksioma itu spesial.

Pertanyaan:
1.      Bagaimana mengajarkan matematika sekolah dengan menggunakan intuisi?

MENCOBA MENGERTI FILSAFAT


Ada 2 hukum di dunia ini yang paling mendasar. Yang pertama hukum identitas dan yang kedua hukum kontradiksi. Hukum identitas jika a = a, aku = aku, berdiri = bediri. Tetai, jika memperhatikan ruang dan waktu maka hukum identitas tidak akan pernah tercapai. Hukum identitas itu artinya subjek = predikat. Hanya Tuhan yang merupakan subjek = predikat, maka orang tidak pernah sama dengan namany. Maka 2 = 2 itu hanya bear jika dipikirkan, kalau ditulis dan diucapkan menjadi salah. Karena kita tidak bisa mengucapkan banyak kata dalam sekali ucap. Maka dalam matematika hanya benar jika dalam pikiran, yang tertulis itu salah menurut filsafat. Dalam hidup ini berlaku hukum kontradiksi, subjek tidak sama dengan predikat. Maka kita tidak pernah sama dengan nama kita masing-masing. Hukum identitas yang kemudian disebut sebagai analitik. Ilmu yang bersifat analitik adalah matematika, karena yang benar adalah yang ada di dalam pikiran. Hukum kontradiksi sifatnya adalah sintetik. Oleh karena itu, di dalam logika (berfikir murni, matematika) sifat pengetahuany bersifat analitik, maka nilai kebenaranya apakah dia konssten atau tidak. Maka matematika nilai kebenaranya dilihat apakah konsisten atau tidak. Sedangkan dalam dunia ini hukumnya adalah kontradiksi, nilai kebenaranya adalah korespondensi. Kemudian ditambah unsure lagi yang identitas berupa definisi, teorema, aksioma, dan lain-lain. Disamping bersifat analitik, maka berfikir itu punya sifat apriori. Apriori itu punya kelebihan merencanakan dan memikirkan apa yang belum dilihat. Sebaliknya dunia pengalaman bersifat aposteriori. Jadi berfilsafat itu berkontradiksi, siap berkotradiksi dengan pikiranmu. Hubunganya dengan hati adalah jangan membiarkan hati kita berkontradiksi, karena jika berkontradiksi maka adalah setan. Ephoce adalah tempat untuk membuang hal-hal yang tidak kita pikirkan. Orang beragama dan tidak beragama bedanya di etik dan estetika, bisa mengelola hati yang tegoda oleh setan.
Tiada seorang filsuf pun yang mengaku dirinya filsuf. Misalya Plato hanya berkarya saja, dan orang lain yang menganggap filsuf. Tiadalah orang yang mampu menguasai filsafat, hanya berusaha mempelajari. Filsafat seorang guru menentukan belajar A dan siswa ingin belajar B, filsafatnya adalah terjeman dan menerjemahkan, yaitu hermeunitika/berinteraksi. Fungsi guru adalah menyediakan alat, sarana, fasilitas sehingga siswa dapat belajar matematika secara optimal. Filsuf, filsuf ilmuan, dan ilmuan filsuf itu berbeda. Misalnya Emanuel Kant dan Pythagoras adalah matmatikawan sekaligus filsuf. Godel dan Fermat adalah tokoh matematikawan murni.
Romamtisme itu bahwa yang benar adalah yang romantic, yang ada yang romantic, hidup ini dipandang sebagai sesuatu yang romantic. Ada unsur keindahan, percintaan, dan unsure kuasa. Kalau dilihat dari romantisisme, peperangan di teluk Persia adalah percintaan Sadam Husein dan Josh Bush. Ketampanan diukur dari kekuasaan. Misalnya di Indonesia yang paling tampan adalah Susilo Bambang Yudoyono, sedangkan di dunia yang paling tampan adalah Barrack Obama.
Munculnya filsafat karena orang tertarik pada objek di luar dirinya, maka orang emnajdi bertanya unsure yang membentuk objek di luar dirinya. Objek pertama filsafat adalah alam. Refleksi paling tinggi dalam filsafat karena di dalamnya ada judgement. Wayang adalah bayangan yang di dalamnya mengandung estetika, unsure filsafat, ilmu, dan seterusnya. Intisari wayang memperoleh kebaikan dan menghindari keburukan. Di dalam wayang ada tokoh-tokoh, di dalam filsafat juga ada tokoh yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Dari sisi filsafat, wayang itu adalah usaha memperbincangkan tokoh-tokoh manusia, sebagai simulasi. Di dalam filsafat kita memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tingkatan yang paling tinggi dari siswa memperlajari matematika adalah jika dapat memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika sekolah. Maka ukuran kita dapat berfilsafat jika mampu  memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Wayang juga mengajarkan nilai tata krama dan pusat-pusat kerajaan.
Kita tidak bisa memiih fisafat, artinya filsafat itu lebih dari cair, lebih dari seperti udara, lebih dari secepat suara, tetapi secepat cahaya karena filsafat adalah olah pikir. Para filsuf adalah pintu masuknya filsafat. Jika kita mengambil salah satu filsuf, pasti akan membaca tokoh yang lain. Misalnya tokoh Imanuel Kant yang tetap juga berubah, idealis juga realis, rasionalis juga empiris.
Tesis adalah yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya tesisnya A, maka antitesisnya adalah selain A. Maka kita bisa mendefinisikan dunia dengan tesis dan antithesis. Jika ada perbedaan adalam pendapat, maka dibicarakan. Untuk mengetahui olah pikir kita mengalami peningkatan adalah dengan refleksi, setiap jenis ujian adalah refleksi.

Pertanyaan:
1.      Bagaimana mengaplikasikan ilmu filsafat dalam kehidupan kita?

Selasa, 09 Oktober 2012

FILSAFAT MEMBINGUNGKAN?


Filsafat akan membuat orang lain menjadi semakin jelas. Jika menjadikan seseorang menjadi bingung, maka filsafatnya bermasalah. Jadi, jika kita mengalami kebingungan, bukan penjelasanya yang kurang jelas, tetapi kita yang sedang belajar. Terjadilah hubungan timbal balik, karena metode berfilsafat itu terjemah menerjemahkan.
Persoalan filsafat ada 2, jika yang dipikirkan di luar pikiranmu, bagaimana kita mengetahuinya. Sebagian besar merasa sudah mengetahuinya,padahal belum mengetahuinya. Maka sebodoh-bodohya orang jika tidak tahu,tetapi merasa sudah tahu. Kalau sudah tahu, maka bagaimana menjelaskannya pada orang lain. Contohnya: betapa sulitnya menjelaskan rasa cinta suami pada istrinya. Tetapi jika istrinya bertanya, “Bagaimana cinta suaminya besok? Bagaimana setelah 10 tahun lagi?” maka tidak akan pernah bisa menjelaskan rasa cintanya.
Berfilsafat adalah olah pikir yang reflektif. Hidup dibagi 2, yaitu tataran atas dan tataran bawah. Tataran atas adalah logika, sedangkan tataran bawah adalah pengalaman. Contoh berfikir tanpa pengalaman: orang takut dengan singa walaupun tidak mempunyai pengalaman diterkam singa. Contoh pengalaman yang tidak pakai berfikir: kita mengajak kucing berlibur ke pantai, tetapi kucing tidak bisa memikirkan pengalamanya. Padahal sebagain besar manusia tidak memikirkan pengalamanya. Itulah tugas dan manfaat berfilsafat.
Ketika masih belajar, jangan prejudging. Cara mengembalikan keoriginalan pikiran kita adalah dengan berinteraksi, terjemah dan menterjemahkan. Menggapai keseimbangan berfikir, keseimbangan filsafat, dan keseimbangan hidup berdasarkan keteguhan hati atau spritualitas, sehingga pemikiran orang lain untuk membangun filsafat. Tidak ada seorang filsuf pun yang tidak terinsprirasi oleh filsuf lain. Karena hidup kita tidak terisolasi. Orang yang tidak mau berfilsafat, seperti orang yang berada di laut, tetapi tidak peduli dengan airnya apakah asin atau tawar. Kita adalah subjek atau objek yang berputar pada porosnya, yaitu spritualitas. Belajar filsafat itu bersifat anyware and anytime. Semakin air mendekati hulu, maka airnya semakin universal, sedangkan semakin mendekati hilirairnya semakin kontekstual. Begitu pula yang terjadi pada filsafat, semakin ke atas maka filsafat semakin universal, semakin ke bawah semakin kontekstual.
Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang mungkin ada itu terletak di dalam pikiran kita. Hidup setiap saat adalah mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Tiada berfilsafat kalau tidak mengacu pada tokoh.
Mengembangkan pola pikir dalam berfilsafat yaitu dengan metode hidup. Contohnya: bagaimana pohon bisa hidup, burung bisa hidup, dan seterusnya. Seperti bumi yang berpusat pada porosnya, maka bumi tidak akan pernah menempati ruang yang sama, seperti kita yang tidak pernah menempati tempat yang sama. Hendaknya kita meniru ciptaan Tuhan, maka kita berputar pada doa kita.
Memulai filsafat dengan baik dan benar dengan menaati norma yang disepakati. Kepastian adalah musuh filsafat. Dalam urusan pikiran, maka kepastian adalah musuhnya. Kadangkala kita mengalami kebingungan dalam berfilsafat, hal itu terjadi supaya kita mampu memikirkannya. Kebingungan yang terjadi karena isi mencari wadahnya. Misalnya bola yang ditempatkan pada ruangan besar bisa ditendang ke segala arah, sedangkan jika ditempatkan pada wadah yang pas, maka tidak akan bisa bergerak. Jika kita mengalami kebingungan dalam filsafat, hendaknya kita berhenti memikirkanya lalu berdoa atau beristirahat. Karena filsafat itu adalah proses mengembarakan pikiran yang bisa mengakibatkan hati bererosi. Maka dalam satu kali berfilsafat, hendaknya kita sepuluh kali berdoa. Jika dua kali berfilsafat, maka 20 kali berdoa.
Jangan merasionalkan keyakinan kita. Filsafat itu tergantung orangnya. Batas antara sesat dan tidak sesat itu tipis. Seperti yang terjadi pada bawang. Bawang itu adalah isi sekaligus juga kulit.
Diri kita sendiri adalah ketidakadilan. Kodrat bahwa manusia tidak bisa adil, kodrat pula manusia berusaha menjadi adil. Karena ada hukum reduksi, Tuhan juga memberlakukanya. Contoh: kita tidak memilih siapa ibu yang akan melahirkan kita. Kita bisa hidup karena ketidakadilan itu. Ikhtiar manusia untuk mengapai keseimbangan.
Berfikir filsafat itu abstrak dan riil. Anak kecil belajar menggunakan mitos, karena melakukan tanpa mengetahui. Ilmu matematika adalah pengandaian. Konsep awal, awal bisa menjadi segala-galanya. Manusia tidak bisa lepas dari awal. Dalam filsafat, awal adalah pondasi, aliranya adalah fondasionalism. Kita dikatakan mulai berfilsafat saat merefleksikan hidup. Setiap yang ada dan yang mungkin ada punya kebenaranya masing-masing. Kebenaran spriritual itu absolute. Filsafat itu berbicara tentang berpikir. Matakognisi bisa dikategorikan ilmu bidang psikologi, tetapi bisa ikut filsafat.
Filsafat itu olah pikir. Jadi, manfaat kita belajar filsafat adalah kita bisa berolah pikir. Kalau tidak belajar filsafat, berarti tidak mempelajari cara filsafat. Filsafat matematika adalah memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika. Filsafat itu menembus ruang dan waktu.

Pertanyaan:
1.      Mengapa filsafat itu dikatakan menembus ruang dan waktu?

Jumat, 28 September 2012

FILSAFAT DALAM ANGANKU


Filsafat pendidikan matematika terdiri dari filsafat dan pendidikan matematika. Dalam hal ini kata filsafat ditempatkan di depan pendidikan matematika. Kata filsafat juga dapat ditempatkan di depan kata yang lain, misalnya filsafat pendidikan biologi, filsafat sains, filsafat olah raga, filsafat seni, filsafat politik, filsafat hidup, filsafat mati, filsafat lahir, filsafat cinta dan seterusnya. Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat. Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.
Defenisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula. Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian (defenisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa “falsafah” itu kira-kira merupakan studi yang didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektika.
Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah: upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas, upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata, upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya, penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan, disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.
Ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni: sifat menyeluruh, sifat mendasar, dan spekulatif. Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan membawa kebahagian dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit. Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar. Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu (Takwin, 2001). Filsafat jua bisa didefinisikan sebagai hidup, jadi metode berfilsafat adalah metode hidup. Karena filsafat itu metode hidup yang mempelajari pola berfikir maka ada beberapa asumsi, yang pertama adalah melihat fakta tenang kondisi faktual pribadi kita masing-masing. Sebagai anak muda kita masih berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita kita. Kita memiliki potensi-potensi untuk dikembangkan, misalnya kita kuliah di jurusan pendidikan matematika maka kita mempunyai potensi untuk menjadi seorang guru matematika, tetapi itu baru sebagai potensi belum menjadi kenyataan. Selain itu kita juga berpotensi untuk membangun rumah tangga, menjadi seorang istri atau suami, tetapi semua hal itu masih sebagai potensi dan belum menjadi kenyataan. Potensi lain yang kita miliki misalnya potensi menjadi dosen, berpotensi melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, dan lain sebagainya.
 Belajar filsafat itu harus bebas, bebas dari motif, bebas berfikir (free thingking) tanpa tekanan, tanpa paksaan dari orang lain, tanpa dikejar-kejar, dan sebagainya. Kalau kita dalam keadaan tertekan atau dikejar-kejar sesuatu, bagaimana kita dapat mempelajari filsafat, padahal filsafat itu sendiri adalah bebas berfikir (free thinking). Jadi kita tidak bisa mempelajari filsafat bila di bawah tekanan orang lain, dipaksa orang lain, atau dikejar-kejar orang lain. Belajar filsafat itu berarti membelajari tata cara berfilsafat. Seperti halnya beribadah, kita mempelajari tata cara beribadah yang sebenarnya ibadah itu sendiri. Misalnya untuk yang beragama Islam mempelajari tata cara sholat, sebenarnya sholat itu adalah ibadah itu sendiri. Untuk yang beragama Katholik mempelajari tata cara penerimaan sakramen babtis, sakramen babtis itu adalah ibadah itu sendiri, dan seterusnya untuk agama lain ada tata cara tersendiri untuk beribadah.
Filsafat dapat didefinisikan sebagai apa saja. Plato (427–348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382–322 SM) mendefenisikan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Menurut Descartes (1596–1650), filsafat ialah kumpulan segala  pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. Filsafat adalah hidup. Dan di dalam hidup ada pikiran, perasaan, daya upaya, masalah, solusi, dan sebagainya. Salah satu persaan yang kita miliki adalah cinta, terutama kita sebagai anak muda sering merasakan yang namanya jatuh cinta. Apa itu cinta? Bagaiman filsafat cinta? Cinta bukan sekedar rasa suka terhadap lawan jenis, rasa sayang, dan rasa rindu. Banyak orang berusaha mendefinisikan apa itu cinta, namun tidak ada yang sungguh bisa mendefinisikan apa itu cinta. Cinta itu juga tidak terduga kapan datangnya, jatuh cinta kepada siapa, kapan dan dimana akan bertemu tidak ada yang tahu pasti. Pada awal jatuh cinta maka biasanya anak muda merasa bahagia, membayangkan hal-hal yang indah, bahkan kadang bisa tersenyum sendiri. Seperti ada lirik lagu yang berbunyi “Bila aku jatuh cinta aku mendengar nyanyian seribu dewa dewi cinta menggema dunia. Bila aku jatuh cinta aku melihat matahari kan datang padaku dan memelukku dengan sayang. Bila aku jatuh cinta aku melihat sang bulan kang dating paaku dn menemani aku melewati dinginnya mimpi. Bila aku jatuh cinta bersama dirimu.” Namun besarnya cinta seseorang tidak bisa diukur, sehingga terkadang hanya diibaratkan seluas samudra, setinggi bintang di langit, seluas jagad raya, seperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi, dan lain-lain. Bila orang sedang jatuh cinta maka dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya sehingga muncul kata-kata cinta itu buta, cinta ini kadang tak ada logika, dan sebagainya. Seperti halnya filsafat yang dapat diartikan sebagai sebuah proses, maka dalam filsafat cinta juga terjadi sebuah proses, sehingga suami istri yang sudah menikah 10 tahun pun masih dalam proses memahami satu sama lain, dalam poses saling mencintai, dan mereka tidak tahu setelah 5 tahu lagi bagaimana cinta yang akan mereka alami.
Komponen dasar berfilsafat adalah logika dan pengalaman. Unsur dasar secara filsafati adalah rasio dan pengalaman. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Asumsi kedua adalah sebagai anak muda yang dalam keadaan lari kencang untuk mewujudkan keinginan atau cita-citanya lalu kita disuruh berhenti untuk belajar filsafat. Maka tidak seharusnya ilmu filsafat itu diberikan secara teoritis dengan membaca buku filsafat atau dijelaskan saja, tetapi alangkah lebih tepat atau lebih bijaksana apabila kita sebagai anak muda diberikan ruang untuk dapat membentuk atau membangun sediri apa itu filsafat. Untuk dapat membangun filsafat itu sendiri maka perlu adanya refleksi-refleksi, membaca artikel-artike filsafat kemudian merefleksikannya, merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup kita jika dilihat dengan kacamata filsafat.
Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat Barat, filsafat Timur, dan filsafat Timur Tengah. Sementara, menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen. Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada, Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan, Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia, Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui, Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Filsafat adalah spiritual. Karena berdoa dan beribadah itu hidup. Beragama yang diwujudkan dengan beribadah itu hedaknya menggunakan hati. Kita tidak bisa menganal Tuhan hanya menggunakan pikiran dan logika saja, kita perlu menggunakan hari kita untuk menengenal Tuhan.


Referensi:
Dikases pada 24 September 2012 pukul 09.00.
NN. 2012. Filsafat. www.wikipedia.co.id/Filsafat.htm . Dikases pada 24 September 2012
pukul 09.00.


Pertanyaan:
1.      Apakah kita bisa hidup tanpa filsafat? Mengapa?
2.      Untuk mencintai seseorang apakah harus mempelajari filsafat cinta? Atau untuk memahamii filsafat cinta harus mengalami yang namanya jatuh cinta?
3.      Apakah dengan adanya globalisasi akan mempengaruhi filsafat itu sendiri?
4.      Karena filsafat adalah hidup, apakah untuk belajar filsafat membutuhkan waktu seumur hidup? Ataukah seumur hidup kita tidak cukup untuk belajar filsafat?
5.      Jika filsafat sapat diartikan apa saja sesuai dengan pandangan masing-masing, apakah pengertian filsafat bersifat relative?